Connect with us

Berpuasa Mudah-Mudahan Bertakwa

KHAZANAH

Berpuasa Mudah-Mudahan Bertakwa

Jurnalkpi.com – Taqwa adalah taat kepada Allah dan tidak boleh berbuat maksiat, bersyukur kepada-Nya dan tidak boleh berbuat kekufuran, ingat kepada-Nya dan tidak boleh melupakan-Nya. Sebenarnya dalam keagamaan sendiri kita akan menapaki 3 tingkatan kualitas.

Tingkatan yang pertama yakni beriman (memperoleh keyakinan). Tingkat beriman adalah tingkatan terendah dalam proses keagamaan. Tingkat ini menggambarkan sebuah proses ‘pencarian’, yang dilanjutkan dengan ‘pemahaman’, dan kemudian diakhiri dengan ‘keyakinan’. Maka, pada tingkat ini seorang muslim akan banyak berkutat dengan ‘pergulatan pemikiran’ yang sangat intens.

Tingkatan yang kedua yakni bertakwa. Inilah tingkatan aplikasi alias amalan. Keyakinan yang telah diperoleh mesti diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukanlah hal mudah untuk menjalankan keyakinan kita secara istiqomah atau konsisten. Itulah yang dimaksudkan dengan kalimat ittaqullaaha haqqatuqaatihi yakni bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.

Tingkatan yang ketiga yakni aslam atau berserah diri. Inilah buah perjuangan yang sangat panjang, istiqomah-konsisten. Orang-orang yang dapat dengan mudah dan penuh keikhlasan dalam menjalankan dan menjaga agamanya. Orang-orang yang matinya dalam keadaan muthmainnah.

Sebagaimana digambarkan dalam QS. Al-Fajr (89): 27-30 yang artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam surge-Ku.”

Berkaitan dengan hal tersebut, puasa adalah tata cara ibadah yang bertujuan untuk menjadikan pelakunya menjadi orang yang bertakwa. Yaitu tingkatan kedua didalam proses beragama kita. Hal itu disebutkan Allah didalam Firman-Nya yang berbunyi: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah 2:183)

Ayat di atas sangat gamblang menggambarkan kepada kita bahwa puasa adalah suatu proses untuk meningkatkan kualitas ‘iman’ menjadi ‘takwa’. Karena itu, yang dipanggil untuk memenuhi kewajiban puasa adalah orang-orang yang beriman. Terdapat pengertian yang tersirat didalam ayat tersebut. Yang pertama, kewajiban puasa ini ternyata hanya diperuntukkan orang-orang yang beriman. Kenapa demikian, karena orang-orang beriman adalah orang-orang yang telah memperoleh keyakinan atas dasar ‘pencarian’ dan kefahaman. Bukan orang yang sekedar ikut-ikutan.

Inilah kata kunci yang dapat menggiring keberhasilan kita dalam menjalankan puasa, dalam arti yang sesungguhnya. Orang-orang yang tidak masuk dalam dalam kategori beriman sangat boleh jadi akan mengalami ‘kegagagalan’ dalam menjalani puasanya.

Dengan kata lain, sebenarnya kita bisa mengatakan bahwa orang-orang muslim harus berpuasa dengan kefahaman, bukan ikut-ikutan atau asal menjalankan saja. Jika ikut-ikutan yang dilakukan, maka prediksi Nabi bahwa puasa kita hanya memperoleh lapar dan dahaga saja yang akan terjadi.

Makna ibadah wajib seperti puasa Ramadhan itu haruslah kita fahami secara benar, bahwa semua itu untuk kepentingan mendasar manusia. Yang jika kita tidak melakukan itu akan mengalami problem dalam kehidupan kita. Begitupun puasa Ramadhan. Ibadah ini bukan untuk kepentingan Allah Swt, karena Allah memang tidak perlu ‘dipuasai’. Justru puasa adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri. Yang jika tidak melaksanakannya, kita akan mengalami masalah dalam kehidupan kita. Baik secara fisik, psikis, social maupun spiritual.

Dengan demikian, perintah puasa justru adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Allah mewajibkan puasa karena Dia menyayangi kita. Karena Dia tidak ingin hidup kita menderita dan menemui berbagai kesulitan.

Jadi, yang disebut dengan orang yang bertakwa adalah orang yang memiliki kemampuan mengendalikan diri secara sempurna. Sehingga, karenanya dia mengalami pertaubatan nasuha, yaitu pertaubatan yang sempurna. Orang yang demikian ini tidak akan dengan sengaja berbuat kesalahan lagi, apalagi membangkang terhadap fitrahnya sendiri yakni mengabdi kepada Allah.

Tentu saja Allah akan menghapus dosa-dosa masa depannya. Karena ia adalah orang yang mampu mengontrol perbuatan-perbuatan di masa depan. Kalaupun berbuat salah, itu adalah kesalahan yang tidak disengaja.

Semoga kita senantiasa menjadi orang yang bertakwa dan tetap istiqamah dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramdhan ini.
Wallahu a’lam Bisshowab

Penulis : Ida Fitria Cahyani

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in KHAZANAH

Advertisement
To Top